Penyakit TB
merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Hingga saat ini
masih menjadi penyakit yang sangat dikawatirkan oleh masyarakat. Menurut hasil
survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT 1995) penyakit TB merupakan penyebab
kematian nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran
pernapasan pada semua kelompok umur.
Diagnosis pasti TB anak sulit oleh karena penemuan
Micobacterium TBC (M.TBC) sebagai penyebab TB pada anak tidak mudah. Sehingga
sering terjadi kesalahan diagnosis baik berupa underdiagnosis dan overdiagnosis
dalam penegakkan diagnosis TB pada anak. Overdiagnosis atau diagnosis TB yang
diberikan terlalu berlebihan padahal anak belum tentu mengalami infeksi TB.
Konsekuensi yang harus dihadapi adalah pemberian multidrug (2 atau 3 jenis
antibiotika) dalam jangka waktu 6 bulan. Pemberian obat anti TB pada anak yang
tidak menderita TB selain mengakibatkan pengeluaran biaya yang tidak
diperlukan, juga resiko efek samping pemberian obat tersebut seperti gangguan
hati, persarafan telinga, gangguan darah dan sebagainya. Di lingkungan
Puskesmas khususnya daerah pedesaan juga membuat berkurangnya persediaan obat
untuk penderita TB yang benar-benar memerlukannya. Di kalangan masyarakat
bahkan sebagian klinisi terdapat kecenderungan tanda dan gejala TB yang tidak
spesifik pada anak sering dipakai dasar untuk memberikan pengobatan TB pada
anak. Padahal banyak penyakit lainnya yang mempunyai gejala tersebut. Gagal
tumbuh atau berat badan tidak naik, kesulitan makan, demam berulang, sering
batuk atau pembesaran kelenjar di sekitar leher dan belakang kepala merupakan
gejala yang tidak spesifik pada anak. Tetapi tampaknya dalam praktek
sehari-hari gangguan ini sering langsung dicurigai sebagai gejala TB.
Seharusnya gejala tersebut dapat disebabkan oleh beberapa penyakit lainnya.
Gangguan-gangguan tersebut juga sering dialami oleh penderita alergi, asma,
gangguan saluran cerna dan gangguan lainnya pada anak.
OVERDIAGNOSIS PADA GANGGUAN LAIN
Tanda dan gejala TB yang tidak spesifik sangat mirip
dengan penyakit lainnya. Gangguan gagal tumbuh dan gangguan saluran napas non
spesifik sering mengalami overdiagnosis tuberkulosis. Penyakit alergi atau asma
dan penderita gagal tumbuh yang disertai kesulitan makan paling sering dianggap
penyakit TB karena gejalanya sama. Penelitian yang dilakukan penulis didapatkan
fakta yang patut disimak. Sebanyak 34(12%) anak mengalami overdiagnosis di
anatara 226 anak dengan gangguan napas nonspesifik seperti alergi atau asma
yang berobat jalan di Klinik Alergi Anak Rumah Sakit Bunda Jakarta. Penelitian
lain didapatkan hasil yang mengejutkan, overdiagnosis ditemukan lebih besar
lagi, yaitu 42 (22%) anak pada 210 anak dengan gangguan kesulitan makan
disertai gagal tumbuh yang berobat jalan di Picky Eaters Clinic Jakarta.
Overdiagnosis tersebut sering terjadi karena tidak sesuai dengan panduan
diagnosis yang ada atau kesalahan dalam menginterpretasikan gejala klinis,
kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya tes mantoux dan foto polos paru.
PERMASALAHAN DIAGNOSIS TB
Gejala khas TB biasanya muncul tergantung dari bagian
tubuh mana yang terserang, misalnya: TB kulit atau skrofuloderma, TB tulang dan
sendi: tulang punggung (spondilitis): gibbus tulang panggul (koksitis):
pincang, pembengkakan di pinggul, tulang lutut pincang atau bengkak, tulang
kaki dan tangan, TB otak dan saraf : meningitis: dengan gejala iritabel, kaku
kuduk, muntah-muntah dan kesadaran menurun. Gejala mata berupa konjungtifitis
phlyctenularis, tuberkel koroid , kelainan ini hanya terlihat dengan alat funduskopi.
Pada pertemuan para ahli pulmonologi anak di Jakarta
26 Agustus 2000 telah dibuat suatu kesepakatan bersama yang berupa Konsensus
Nasional TB anak. Diagnosis paling tepat adalah ditemukannya basil TB dari
bahan yang diambil dari pasien misalnya sputum, bilasan lambung, biopsi dll.
Tetapi pada anak hal ini sulit dan jarang didapat, sehingga sebagian besar
diagnosis TB anak didasarkan gambaran klinis, kontak, gambaran radiologis, dan
uji tuberculin.
Pemeriksaan BTA secara mikroskopis langsung pada anak
biasanya dilakukan dari bilasan lambung karena dahak sulit didapat. Pemeriksaan
BTA secara biakan (kultur) memerlukan waktu yang lama. Cara baru untuk
mendeteksi kuman TB dengan PCR (Polymery Chain Reaction) atau Bactec masih
belum banyak dipakai dalam klinis praktis. Demikian juga pemeriksaan darah
serologis seperti ELISA, PAP, Mycodot dan lain-lain, masih memerlukan
penelitian lebih lanjut untuk pemakaian dalam klinis praktis. Beberapa
pemeriksaan tersebut spesifitas dan sensitifitasnya tidak lebih baik dari uji
tuberkulin atau tes mantoux.
KESALAHAN DIAGNOSIS
Overdiagnosis sering terjadi karena karena tidak
sesuai dengan panduan diagnosis yang ada atau kesalahan dalam
menginterpretasikan gejala klinis, kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya
tes mantoux dan foto polos paru. Pada kasus di atas sebagian besar
overdiagnosis TB ditegakkan hanya karena hasil foto rontgen. Tanpa pengamatan
adanya kontak dan uji tuberkulin (test mantouxt) sudah terlalu cepat diberikan
pengobatan TB. Sering terjadi hasil rontgen adalah infiltrat (flek) di paru
sudah dianggap sebagai TB. Padahal gambaran ini bukan gambaran TB dan ternyata
bisa didapatkan pada penyakit alergi, asma dan penyakit coeliac (gangguan
saluran cerna dan berat badan kurus).
Sedangkan gambaran röntgen TB paru pada anak tidak
khas. Gambaran TB yang ditemukan adalah pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar
paratrakeal, milier,atelektasis, kolaps, konsolidasi, infiltrat dengan
pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal, konsolidasi (lobus), cairan paru. kalsifikasi,
bronkiektasis, kavitas dan destroyed lung (paru rusak). Sering kali terjadi
interpretasi dokter radiologi hanya karena ditemukan infiltrat (flek) tanpa
pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal sudah dicurigai atau
dianggap TB. Sedangkan dokter yang merawat penderita langsung memberikan
pengobatan TB tanpa konfirmasi data lainnya.
Menentukan sumber penularan atau kontak TB adalah
adanya kontak erat dan lama dengan penderita TB yang dipastikan dengan
pemeriksaan dahak yang positif. Kesalahan yang sering terjadi bahwa kontak TB
itu adalah saudara yang hanya pernah bertemu sesekali. Kesalahan lainnya kontak
TB sering dianggap bahwa orang yang sering batuk atau kurus padahal belum tentu
bila belum terbukti pemeriksaan dahak atau sputum positif. Anak yang mengalami
gagal tumbuh dengan kesulitan makan ternyata sekitar 75% salah satu orang
tuanya juga mengalami gangguan kenaikkan berat badan. Penderita alergi atau
asma juga sebagian besar salah satu orang tuanya juga mengalami batuk lama yang
terlalu cepat dianggap sebagai kontak TB.
Di dalam masyarakat batuk lama atau Batuk Kronis
Berulang (BKB) tampaknya lebih sering dikawatirkan sebagai TB. Padahal batuk
adalah bukan merupakan keluhan utama penyakit TB pada anak. BKB adalah batuk
yang berlangsung lebih dari 2 minggu atau berulang 3 kali atau lebih dalam 3
bulan. Diagnosis banding pertama pada BKB adalah asma atau alergi. Menurut
pedoman Nasional Tuberkulosis Anak bila ditemui keluhan BKB harus disingkirkan
dulu diagnosis banding lain seperti alergi atau asma sebelum diagnosis TBC
dicari. Kesalahan membaca tes mantouxt sering terjadi dalam overdiagnosis TB.
Hasil tes Mantoux yang besar langsung dicurigai sebagai TB. Padahal tes Mantoux
dikatakan positif bila indurasi harus lebih 10 mm bila bekas luka imunisasi BCG
negatif (imunisasi tidak jadi). Bila bekas luka imunisasi BCG ada (imunisasi
BCG jadi) harus lebih 15 mm. Kesalahan lain yang sering terjadi adalah
penilaian tes mantoux adalah lebar peninggian kemerahan kulit bukan kemerahan
pada kulit.
TB adalah penyakit yang harus diwaspadai tetapi jangan
terlalu kawatir berlebihan. Dalam menegakkan diagnosis harus dilakukan secara
cermat dan lengkap melalui anamnesa kontak TB, tanda dan gejala TB, pemeriksaan
foto polos paru dan uji tuberkulin. Sebaiknya tidak terlalu cepat memvonis
diagnosis TB bila data yang didapat belum optimal. Bila meragukan sebaiknya
dilakukan penanganan multidisiplin ilmu kesehatan anak seperti dokter
pulmonologi anak, gastroenterologi anak, endokrinologi anak atau alergi anak.
Karena bila sudah didiagnosis TB maka konsekuensi penggunaan obat-obatan dalam
jangka waktu lama dan resiko efek samping yang ditimbulkan.
Ada beberapa Gejala TBC yang biasa terjadi pada anak. Salah satunya adalah
batuk yang lama dan berulang-ulang. Karena itu, waspadalah jika anak Anda batuk
dan tidak sembuh-sembuh. Sebab itu merupakan salah satu gejala TBC pada anak.
Tuberkulosis (TB atau TBC) pada anak memang berbeda
dengan TBC pada orang dewasa. TBC pada anak menginfeksi primer di parenkim paru
yang tidak menyebabkan refleks batuk, sehingga jarang ditemukan gejala TBC yang
khas seperti batuk berdahak.
Pada parenkim paru ini juga kuman cenderung lebih
sedikit, maka TBC tidak menular antara sesama anak. Penyakit TBC sangat mudah
menular dari orangtua ke anak, tapi TBC tidak menular dari anak ke anak.
TBC adalah penyakit serius yang gampang menular secara
langsung melalui udara. Anak-anak dengan kekebalan tubuh buruk paling rentan
tertular TB dari orang dewasa yang positif TB. Tapi TB tidak menular antara sesama
anak.
Gejala TBC pada anak lebih susah didiagnosis karena
bukan merupakan gejala khas TB. Pada anak jarang ditemukan gejala TBC seperti
batuk berdahak seperti yang diderita pada orang dewasa. Dan seringkali terjadi
salah diagnosa, karena gejala yang dialami bisa juga merupakan gejala penyakit
lain.
Gejala TBC pada anak bisa ditandai dengan tanda-tanda
berikut:
Demam lama atau berulang, tapi tidak terlalu tinggi
Tidak ada nafsu makan (anoreksia)
Berat badan tidak naik-naik
Malnutrisi atau gangguan gizi
Multi L (lemah, letih, lesu, lelah, lemas letoy, loyo,
lambat)
Batuk lama atau berulang, tetapi tidak berdahak (tapi
seringkali ini merupakan gejala asma)
Diare berulang
Gejala TBC di atas merupakan gejala khas yang biasa
terjadi pada penderita TBC. Namun tidak bisa dijadikan patokan, sebab gejala
yang sama kadang mengindikasikan penyakit lain.
Diagnosis TBC pada anak tidak bisa dilakukan dengan
uji dahak (sputum test), karena memang jarang pasien TBC anak mengalami batuk
berdahak. Selain itu, foto rontgen pada anak juga tidak bisa memberikan
diagnosa yang tepat. Maka diperlukan uji Tuberkulin atau uji Mantoux.
Uji Tuberkulin dilakukan dengan menyuntikkan
tuberkulin PPD intrakutan di volar lengan bawah. Reaksi obat dapat dilihat 48
sampai 72 jam setelah penyuntikan. Uji Tuberkulin positif menunjukkan adanya
infeksi TBC.
Ketika seorang anak sudah menderita penyakit TBC aktif
yang awalnya berupa Gejala TBC saja, maka seluruh anggota keluarga dan orang
dewasa lain yang kontak dekat dengan si anak harus diperiksa untuk mencari
sumber penularan dan segera diobati, agar rantai penularan dapat dihentikan.
Penyakit TBC adalah merupakan suatu penyakit yang tergolong dalam infeksi yang
disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Penyakit TBC dapat menyerang
pada siapa saja tak terkecuali pria, wanita, tua, muda, kaya dan miskin serta
dimana saja. Di Indonesia khususnya, Penyakit ini terus berkembang setiap
tahunnya dan saat ini mencapai angka 250 juta kasus baru diantaranya 140.000
menyebabkan kematian. Bahkan Indonesia menduduki negara terbesar ketiga didunia
dalam masalah penyakit TBC ini.
Penyebab Penyakit TBC
Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mikobakterium
tuberkulosa, Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga
dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Jenis bakteri ini pertama kali
ditemukan oleh seseorang yang bernama Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882,
Untuk mengenang jasa beliau maka bakteri tersebut diberi nama baksil Koch.
Bahkan penyakit TBCpada paru-paru pun dikenal juga sebagai Koch Pulmonum (KP).
Cara Penularan Penyakit TBC
Penularan penyakit TBC adalah melalui udara yang
tercemar oleh Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan/dikeluarkan oleh si
penderita TBC saat batuk, dimana pada anak-anak umumnya sumber infeksi adalah
berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Bakteri ini masuk kedalam
paru-paru dan berkumpul hingga berkembang menjadi banyak (terutama pada orang
yang memiliki daya tahan tubuh rendah), Bahkan bakteri ini pula dapat mengalami
penyebaran melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening sehingga
menyebabkan terinfeksinya organ tubuh yang lain seperti otak, ginjal, saluran
cerna, tulang, kelenjar getah bening dan lainnya meski yang paling banyak
adalah organ paru.\
Masuknya Mikobakterium tuberkulosa kedalam organ paru
menyebabkan infeksi pada paru-paru, dimana segeralah terjadi pertumbuhan koloni
bakteri yang berbentuk bulat (globular). Dengan reaksi imunologis, sel-sel pada
dinding paru berusaha menghambat bakteri TBC ini melalui mekanisme alamianya membentuk
jaringan parut. Akibatnya bakteri TBC tersebut akan berdiam/istirahat (dormant)
seperti yang tampak sebagai tuberkel pada pemeriksaan X-ray atau photo rontgen.
Seseorang dengan kondisi daya tahan tubuh (Imun) yang
baik, bentuk tuberkel ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Lain hal pada
orang yang memilki sistem kekebelan tubuh rendah atau kurang, bakteri ini akan
mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Sehingga
tuberkel yang banyak ini berkumpul membentuk sebuah ruang didalam rongga paru,
Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (riak/dahak). Maka
orang yang rongga parunya memproduksi sputum dan didapati mikroba tuberkulosa
disebut sedang mengalami pertumbuhan tuberkel dan positif terinfeksi TBC.
Berkembangnya penyakit TBC di Indonesia ini tidak lain
berkaitan dengan memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas
pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak
mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Hal ini juga
tentunya mendapat pengaruh besar dari daya tahan tubuh yang lemah/menurun,
virulensi dan jumlah kuman yang memegang peranan penting dalam terjadinya
infeksi TBC.
Gejala Penyakit TBC
Gejala penyakit TBC digolongkan menjadi dua bagian,
yaitu gejala umum dan gejala khusus. Sulitnya mendeteksi dan menegakkan
diagnosa TBC adalah disebabkan gambaran secara klinis dari si penderita yang
tidak khas, terutama pada kasus-kasus baru.
1. Gejala umum (Sistemik)
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama,
biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan
demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
Penurunan nafsu makan dan berat badan.
Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai
dengan darah).
Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
2. Gejala khusus (Khas)
Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila
terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat
penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”,
suara nafas melemah yang disertai sesak.
Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus
paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti
infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada
kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus
otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah
demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada penderita usia anak-anak apabila tidak
menimbulkan gejala, Maka TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak
dengan pasien TBC dewasa. Sekitar 30-50% anak-anak yang terjadi kontak dengan
penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak
usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa
dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan
serologi/darah.
Pengobatan Penyakit TBC
Pengobatan bagi penderita Penyakit TBC akan menjalani
proses yang cukup lama, yaitu berkisar dari 6 bulan sampai 9 bulan atau bahkan
bisa lebih. Penyakit TBC dapat disembuhkan secara total apabila penderita
secara rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan memperbaiki daya
tahan tubuhnya dengan gizi yang cukup baik.
Selama proses pengobatan, untuk mengetahui
perkembangannya yang lebih baik maka disarankan pada penderita untuk menjalani
pemeriksaan baik darah, sputum, urine dan X-ray atau rontgen setiap 3 bulannya.
Adapun obat-obtan yang umumnya diberikan adalah Isoniazid dan rifampin sebagai
pengobatan dasar bagi penderita TBC, namun karena adanya kemungkinan resistensi
dengan kedua obat tersebut maka dokter akan memutuskan memberikan tambahan obat
seperti pyrazinamide dan streptomycin sulfate atau ethambutol HCL sebagai satu
kesatuan yang dikenal ‘Triple Drug’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.